Tokopedia

Tokopedia
Jas Hujan

STIPAP VS USU

PTKI VS Teknik Kimia USU

Asap Cair dan Manfaatnya

Google My Business (Google Place) Untuk Bisnis Lokal Berkembang

Kenapa Wikipedia Selalu Teratas di Pencarian Google

Showing posts with label e-learning. Show all posts
Showing posts with label e-learning. Show all posts

Makalah Pengetahuan Lingkungan

http://3.bp.blogspot.com/-SW3JrvKUC_g/VP74aOVZjeI/AAAAAAAAAJc/5ISvrLQF-fA/s1600/Copy-of-300x250-sitebuilder_128.gif
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
    Banyak saat ini manusia yang merusak lingkungan untuk memenuhi kebutuhannya. Kerusakan lingkungan adalah deteriorasi lingkungan dengan hilangnya sumberdaya alam.
Kerusakan lingkungan adalah salah satu dari sepuluh ancaman yang secara resmi diperingatkan oleh High Level Threat Panel dari PBB. The World Resources Institute (WRI), UNEP (United Nations Environment Programme),UNDP(United Nations Development Programme), dan Bank Dunia telah melaporkan tentang pentingnya lingkungan dan kaitannya dengan kesehatan manusia , pada tanggal 1 Mei 1998. Kerusakan lngkungan terdiri dari berbagai tipe. Ketika alam rusak dihancurkan dan sumber daya menghilang, maka lingkungan sedang mengalami kerusakan. Environmental Change and Human Health, bagian khusus dari laporan World Resources 1998-99 menjelaskan bahwa penyakit yang dapat dicegah dan kematian dini masih terdapat pada jumlah yang sangat tinggi. Jika perubahan besar dilakukan demi kesehatan manusia, jutaan warga dunia akan hidup lebih lama. Di negara termiskin, satu dari lima anak tidak bisa bertahan hidup hingga usia lima tahun, terutama disebabkan oleh penyakit yang hadir karena keadaan lingkungan yang tidak baik. Sebelas juta anak-anak meninggal setiap tahunnya, terutama disebabkan oleh malaria, diare, dan penyakit pernapasan akut , penyakit yang sesungguhnya sangat mungkin untuk dicegah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Sejarah Pencemaran Lingkungan
2.1.1 Dampak Pencemaran Lingkungan di Eropa
      Pada tahun 2011, di Eropa telah terjadi wabah Entero Hemoragic E.Coli (EHEC) yang telah menimbulkan infeksi terhadap ratusan orang dan menelan puluhan korban jiwa. Jerman menemukan 520 kasus "Haemolytic Uraemic Syndrome" atau HUS dengan 11 kematian dan 1.213 kasus "Enterohaemorrhagic Escherichia coli" atau EHEC yang mengakibatkkan enam orang di antaranya meninggal dunia. Selain Jerman, ada 11 negara lain yang menemukan dua kasus penyakit itu yakni Austria (2 kasus EHEC), Republik Czech (1 kasus EHEC), Denmark (7 kasus HUS dan 10 kasus EHEC)), Prancis (6 kasus EHEC), Belanda (4 kasus HUS dan 4 kasus EHEC), Norwegia (1 kasus EHEC), Spanyol (1 kasus HUS), Swedia (15 kasus HUS dan 28 kasus EHEC), Swiss ( 2 kasus EHEC), Inggris (3 kasus HUS dan 4 kasus EHEC) dan Amerika Serikat (2 kasus HUS). Menurut sebagian pengamat, awalnya, bakteri E. coli diduga berasal dari tanaman ketimun yang ditanam di wilayah Spanyol. Namun, pada hari Senin (6/6) kemarin diduga bakteri E. coli yang mewabah berasal dari tanaman tauge yang berasal dari perkebunan organik di Jerman. Kemudian didapat dari Press Association, dikabarkan bahwa tanaman tauge dari perkebunan organik di Jerman bukanlah penyebab wabah E. coli di Eropa. Dari sample yang ada, 23 dari 40 sample yang ada menunjukan hasil yang negatif. dan yang masih hangat adalah tudingan Uni Eropa yang menyatakan bahwa bakteri akibat biji fenugreek yang diimpor dari Mesir.
       Bakteri E.coli dapat ditemukan pada usus manusia dan binatang berdarah panas. Serangan bakteri Escherichia coli atau E.coli diwaspadai sebagai strain terbaru E.coli, karena efek penyakit yang disertai perdarahan serius dan dapat menyebabkan kematian penderita. Demikian pula, bakteri ini kebal terhadap antibiotik. Penyebaran, penyakit ini diketahui, merupakan akibat kontaminasi makanan, air minum, susu, sayuran, serta pencemaran lingkungan, yang berasal dari kotoran, liur, atau tinja penderita penyakit diare ini, baik langsung dari penderita atau merupakan vektor dari binatang mengerat misalnya tikus.

         Menurut sejarahnya, infeksi E.Coli telah menyerang dunia dan mewabah sejak tahun 1882 yang menelan ribuan korban jiwa di Amerika, kemudian menyebar ke Jepang dan Eropa. Selanjutnya 100 tahun kemudian, tepatnya tahun 1975 ditemukan strain baru yang berdasarkan uji isolasi antigen, dimana E.Coli ini kebal terhadap antibiotik, dan tahun 2011 ini berawal dari Eropa, penyakit ini kembali mewabah. Selama wabah yang mulai minggu kedua bulan Mei di utara Jerman, lebih dari 2300 orang telah terinfeksi pada 7 Juni, dan lebih dari 600 jiwa mengalami Haemolytic Uraemic Syndrome, yaitu suatu perdarahan yang menimbulakan kelebihan urea didalam darah, dan tentunya bisa menyebabkan penurunan kesadaran, serta 123 jiwa diantaranya telah meninggal dunia.


2.1.2 Dampak Pencemaran di Laut Timor
        Pencemaran lingkungan laut merupakan masalah yang dihadapi oleh masyarakat bangsa-bangsa. Pengaruhnya dapat menjangkau seluruh aktifitas manusia di laut dan karena sifat laut yang berbeda dengan darat, maka masalah pencemaran laut dapat mempengaruhi semua negara pantai baik yang sedang berkembang maupun negara-negara maju, sehingga perlu disadari bahwa semua negara pantai mempunyai kepentingan terhadap masalah pencemaran laut. Pada tanggal 21 Agustus 2009 sumur minyak Montara milik PTTEP Australasia (Ashmore Cartier) Pty Ltd (PTTEP-AA) meledak. Kemudian pada tanggal 9 november 2009 kebocoran tersebut dapat diatasi. Selama rentang waktu tersebut, kebocoran telah menimbulkan pencemaran yang melintasi wilayah perairan negara Republik Indonesia, tepatnya di sekitar wilayah perairan Laut Timor.Akibatnya, warga negara Indonesia khususnya nelayan yang tinggal di sekitar perairan laut timor menderita kerugian baik moril dan materiil.
     Kawasan laut Indonesia yang tercemar tumpahan minyak dari kilang Montara diduga sudah mencapai 90.000 km persegi. Disebutkan pula bahwa skala tumpahannya jauh lebih besar daripada yang terjadi di Teluk Meksiko, walaupun sebenarnya pernyataan ini masih harus diverifikasi ulang terutama dari faktor konversinya, mengingat tumpahan minyak di Teluk Meksiko berkisar antara 35.000 sampai 60.000 baril per hari, sedangkan yang berasal dari ladang minyak Montara mencapai sekitar 500.000 liter, atau sekitar 3.145 baril per hari.
        Saat ini Laut Timor sedang dihadapkan pada ancaman kehancuran sumber daya dan lingkungan. Ini disebabkan oleh pencemaran tumpahan minyak jenis light crude oil yang bersumber dari Ladang Montara (The Montara Well Head Platform) di Blok “West Atlas Laut Timor” perairan Australia. Tumpahan minyak itu tidak hanya akan mengakibatkan bencana ekologi, tetapi juga menyebabkan bencana ekonomi. Masyarakat perikanan, baik nelayan, pembudi daya ikan, maupun petani garam, tidak bisa melakukan aktivitas mereka.
        Bukan hanya itu, Kondisi bawah laut Timor atau dasar laut Timor setelah terjadinya petaka Laut Timor yang ditutup-tutupi oleh perusahaan pencemar Laut Timor dan Pemerintah Australia sedikit terungkap. Terumbu karang di Laut Timor rusak berat diduga diakibatkan oleh puluhan juta tumpahan minyak mentah yang ditenggelamkan oleh AMSA (Australia Maritime Safety Authority) dengan menggunakan bubuk kimia beracun Corexit 9500 yang dikenal dengan sebutan dispersan.
Sehubungan dengan berbagai temuan ini tidak ada alasan bagi PTTEP Australasia,Pemerintah Federal Australia,Pemerintah Negara Bagian Australia Utara dan Pemerintah Republik Indonesia untuk tidak mau melakukan sebuah penelitian ilmiah yang menyeluruh,komprehensif,kredibel dan independen terhadap dampak pencemaran Laut Timor bagi sosial ekonomi masyarakat,kesehatan masyarakat dan lingkungan.
      Yayasan Peduli Timor Barat dalam rilisnya, Kamis (20/10/2011) mengatakan rakyat Timor Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur,Republik Indonesia membutuhkan sebuah penelitian ilmiah yang patut,menyeluruh,transparan,kredibel dan independen yang harus dibiayai oleh PTTEP Australasia dan Pemerintah Australia sebagai bentuk pertanggungjawaban petaka pencemaran Laut Timor yang oleh karena kelalaian mereka kami telah menjadi korban.Berdasarkan hasil penelitian tersebut barulah diketahui besarnya ganti rugi dan lain sebagainya.
Tragedi Pencemaran Minyak oleh Montara, merupakan peristiwa kerusakan lingkungan laut terbesar dalam sejarah Australia. Diperkirakan tumpahan minyak ini mengotori wilayah sampai radius sekitar 250 kilometer kearah utara, hingga mencapai perairan Indonesia (Kelompok lingkungan WWF). Lebih dari 400 ribu liter minyak telah tertumpah, sehingga menyebabkan kematian biota laut termasuk ikan paus dan lumba-lumba yang berada diwilayah ini.Bahkan kerusakan lingkungan akibat bencana lingkungan ini, diduga melebihi tragedi minyak teluk meksiko.

BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
      Berdasarkan Uraian Pada Pembahasan, dapat disimpulkan hal sebagai berikut :
1. Tragedi Pencemaran Minyak oleh Montara, merupakan peristiwa kerusakan lingkungan laut yang dampaknya mengancam kehancuran sumber daya dan lingkungan. Diperkirakan tumpahan minyak ini mengotori wilayah sampai radius sekitar 250 kilometer kearah utara, hingga mencapai perairan Indonesia (Kelompok lingkungan WWF). Lebih dari 400 ribu liter minyak telah tertumpah, sehingga menyebabkan kematian biota laut termasuk ikan paus dan lumba-lumba yang berada diwilayah ini.Bahkan kerusakan lingkungan akibat bencana lingkungan ini, diduga melebihi tragedi minyak teluk meksiko.
2. Di dalam Ketentuan Umum dari Bab XV UNCLOS 1982 tentang Penyelesaian Perselisihan ditetapkan bahwa pada dasarnya negara peserta UNCLOS 1982 yang bersengketalah yang akan menyelesaikan perselisihan dengan cara-cara damai (peaceful means) yang sesuai dengan ketentuan dari Piagam PBB. [27] UNCLOS 1982 juga tidak menghalangi negara peserta UNCLOS 1982 yang bersengketa untuk mencari metode penyelesaian perselisihan dengan cara damai lainnya (other free means), [28] dan apabila 2 asas metode penyelesaian sengketa tersebut tidak berhasil, maka UNCLOS 1982 mengatur prosedur lain yang bersifat formal dan mengikat, yaitu melalui: [29]
a. Mahkamah Internasional Hukum Laut (International Tribunal for the Law of the Sea) yang berkedudukan di Hamburg, Jerman;
b. Mahkamah Internasional (International Court ofJustice) yang berkedudukan di Belanda;
c. Arbitrase atau Prosedur Arbitrase Khusus (Arbitration or Special Arbitration Procedures) yang diatur di dalam Lampiran VII dan VIII UNCLOS 1982; dan
d. Konsiliasi (Conciliation) yang keputusannya tidak mengikat para pihak dan diatur di dalam Lampiran V UNCLOS 1982. UNCLOS 1982 juga mengatur bahwa apabila negara peserta UNCLOS 1982 yang bersengketa setuju, maka penyelesaian perselisihan sengketa dapat melalui persetujuan bilateral, regional atau persetujuan umum yang akan mengatur suatu prosedur untuk memberikan keputusan yang mengikat [30] bagi masing-masing pihak yang bersengketa.

3.2 Saran
      Saran yang perlu penulis kemukakan sehubungan dengan makalah ini, yaitu:
1. Sebaiknya, sedini mungkin Pemerintah RI mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menjamin kepentingan nasional Indonesia, guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya kasus Montara serupa di wilayah jurisdiksi Indonesia dikemudian hari.
2. Hendaknya ada usaha dari pemerintah untuk pembentukan tim independen yang melibatkan para pakar (geologi, lingkungan, perikanan, pertambangan), tokoh masyarakat, dan lembaga swadaya masyarakat (Indonesia, Australia, dan dunia internasional) untuk identifikasi dampak sosial ekonomi dalam rangka menyusun kompensasi yang layak bagi korban pencemaran
3. Perlunya pemilik anjungan migas lepas pantai untuk menggunakan skema asuransi atas resiko yang mungkin timbul di dalam eksplorasi dan eksplorasi migas di wilayah jurisdiksi RI, dan lain-lain.
4. Sebaiknya pihak yang dipercaya di Indonesia meneliti kasus montara ini perlu mempublikasikan hasilnya ke masyarakat melaui website, agar masyarakat juga paham perkembangan kasus yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
Tolawallu. 2010. Pencemaran Laut Timor. http://ogi-to-lawallu.blogspot.com/2012/05/kasus-pencemaran-laut-timor.html. Diakses pada tanggal 3 Maret 2014
Uni. 2013. Pencemaran Yang Terjadi Di Eropa. catatankecilnya.blogspot.com/.../makalah-pencemaran-lingkungan Diakses pada tanggal 3 Maret 2014
Wikipedia . 2012. Pencemaran lingkungan. www.wikipedia.com Diakses pada tanggal 3 Maret 2014
Cara

Makalah Produksi Bersih

http://3.bp.blogspot.com/-SW3JrvKUC_g/VP74aOVZjeI/AAAAAAAAAJc/5ISvrLQF-fA/s1600/Copy-of-300x250-sitebuilder_128.gif
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Minimalisasi Limbah
      Banyaknya kasus pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah industri dewasa ini telah mendorong terjadinya pergeseran paradigma di dalam penanganan limbah industri tersebut. Pergeseran paradigma yang dimaksud adalah perubahanend of pipe treatment menjadi pollution prevention principle. Hal ini berarti penanganan limbah dilakukan bukan setelah limbah tersebut terbentuk, tetapi pengelolaannya diupayakan sedemikian rupa mulai daribahan baku sampai akhir pemakaian produk agar dihasilkan limbah seminimalmungkin. Upaya ini lebih bersifat proaktif dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu. Dengan menguasai paket teknologi minimisasi limbah dan pemanfaatan ulang material berbahaya dalam limbah (Panggabean, 2000).
      Pengelolaan limbah pada dasarnya bertujuan untuk mengendalikan pencemaran yang disebabkan oleh kegiatan industri. Secara hirarki, upaya pengelolaan limbah tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Pada gambar tersebut terlihat upaya pengelolaan limbah yang pertama sekali diupayakan adalah meminimisasi limbah dengan cara reduksi pada sumbemya dan diikuti dengan pemanfaatan limbah baik di dalam pabrik (on-site), maupun di luar pabrik (off-site) tersebut. Reduksi limbah pada sumbernya adalah upaya untuk mengurangi volume, konsentrasi, toksisitas, dan tingkat bahaya limbah yang akan menyebar di lingkungan, secara preventif langsung pada sumber pencemar. Pemanfaatan limbah adalah upaya mengurangi volume, konsentrasi, toksisitas, dan tingkat bahaya yang menyebar di lingkungan, dengan cara memanfaatkannya melalui cara penggunaan kembali (reuse), daur ulang (recycle), perolehan kembali (recovery). Setelah upaya minimisasi limbah dilakukan dengan maksimal, kemudian limbah yang terbentuk selanjutnya diolah dengan memperhatikan baku mutu limbah yang berlaku. Setiap upaya pengolahan limbah umumnya akan menghasilkan sisa akhir, misalnya lumpur (sludge). Sisa akhir proses pengolahan limbah tersebut sebelum dibuang ke lingkungan, harus diolah terlebih dahulu (Panggabean, 2000).

1.2 Tujuan Makalah
Adapun tujuan minimalisasi limbah adalah:
1. Mengetahui penyebab pencemaran lingkungan yang dihasilkan oleh proses produksi
2. Mengetahui minimalisasi limbah pada produksi bersih
3. Mengetahui salah satu cara minimalisasi limbah adalah ekoefisiensi dari dampak lingkungan dan ekonomi.

1.3 Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dari makalah “Minimalisasi Limbah” adalah:
1. Pengertian produksi bersih dan teknik pelaksanaannya.
2. Analisa neraca massa pada proses industri dalam meminimalisasi limbah.
3. Hubungan ekoefisiensi dengan produksi bersih
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Produksi Bersih
      Konsep Cleaner Production dicetuskan oleh United Nation Environmental Program (UNEP) pada bulan Mei 1989. UNEP menyatakan bahwa Cleaner Production merupakan suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, terpadu dan diterapkan secara kontinu pada proses produksi, produk dan jasa untuk meningkatkan eko-efisiensi sehingga mengurangi resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Gambar 2.1 Teknik Produksi Bersih
(Hidayat, 2012)

2.2 Teknik Pelaksanaan Produksi Bersih
      Ada beberapa teknik pelaksanaan produksi bersih adalah (Afmar, 1999):
1. Pengurangan pada Sumber
    Pengurangan pada sumber merupakan pengurangan atau eliminasi limbah pada sumbernya. Upaya ini meliputi:
a. Perubahan produk
   Perancangan ulang produk, proses dan jasa yang dihasilkan sehingga akan terjadiperubahan produk, proses dan jasa. Perubahan ini dapat bersifatkomprehensif maupun radikal. Dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
Ø Subsitusi produk
Ø Konservasi produk
Ø Perubahan komposisi produk
b. Perubahan Material Input
   Perubahan material input dilaksanakan untuk mengurangi atau menghilangkan bahan berbahaya dan beracun yang masuk atau digunakan dalam proses produksi sehingga dapat menghindari terbentuknya limbah B3 dalam proses produksi.
c. Volume Buangan Diperkecil
    Ada dua macam cara yang dapat dilakukan, yaitu:
Ø Pemisahan
  Pemisahan limbah dimaksudkan untuk memisahkan limbah yang bersifat racun dan berbahaya dengan limbah yang tidak beracun. Teknologi ini dipakai untuk mengurangi volume limbah dan menaikan jumlah limbah yang dapat diolah kembali.
Ø Mengkonsentrasikan
    Mengkonsentrasikan limbah pada umumnya untuk menghilangkan sejumlah komponen. Dilakukan dengan pengolahan fisik, misalnya pengendapan atau penyaringan. Komponen yang terpisah dapat digunakan kembali.
(Dwi dan Susanti, 1997)
d. Perubahan Teknologi
  Perubahan teknologi mencakup modifikasi proses dan peralatan. Tujuannya untuk mengurangi limbah dan emisi. Perubahan teknologi dapat dilaksanakan mulai dari yang sederhana dalam waktu singkat danbiaya yang murah sampai perubahan yang memerlukan investasi tinggi. Pengeluaran biaya yang tinggi untukmemodifikasi peralatan akan diimbangi dengan adanya penghematan bahan, kecepatan produksi dan menurunnya biaya pengolahan limbah (Dwi dan Susanti, 1997).
e. Penerapan Operasi yang Baik (good house keeping)
   Praktek operasi yang baik (good house keeping) adalah salah satu pilihanpengurangan pada sumber, mencakup tindakan prosedural, administratif atau institusional yang dapat digunakan diperusahaan untuk mengurangi terbentuknya limbah. Penerapan operasiini melibatkan unsur-unsur:
Ø Pengawasan terhadap prosedur-prosedur operasi
Ø Loss prevention
Ø Praktek manajemen
Ø Segregasi limbah
Ø Perbaikan penanganan material
Ø Penjadwalan produk
    Peningkatan good housekeeping umumnya dapat menurunkan jumlahlimbah antara 20 sampai 30% denganbiaya yang rendah.
2. Daur Ulang
    Daur ulang merupakan penggunaan kembali limbah dalam berbagai bentuk, di antaranya:
a. Dikembalikan lagi ke proses semula
b. Bahan baku pengganti untuk proses produksi lain
c. Dipisahkan untuk diambil kembali bagian yang bermanfaat
d. Diolah kembali sebagai produk samping
   Walaupun daur ulang limbah cenderungefektif dari segi biaya dibanding pengolahanlimbah, ada hal yang harus diperhatikanyaitu bahwa proses daur ulang limbah harusmempertimbangkan semua upayapengurangan limbah pada sumber telahdilakukan.

2.3 Analisa Neraca Massa pada proses

Gambar 2 Neraca Massa dan Energy pada Proses
(Foelkel, 2008).
     Analisa pada proses industri dapat dengan menganalisa neraca massa dan energi dan juga utilitas yang bertujuan untuk menemukan proses yang tidak efisien sehingga bisa diambil langkah yang dapat meminimalkan kerugian.
     Neraca massa yakni menerangkan jalannya bahan baku kedalam proses produksi. Neraca massa ini bisa dianalisa secara keseluruhan area proses namun bisa juga dianalisa dengan area yang lebih kecil yakni pada suatu alat proses (sistem). Neraca massa ini berprinsip pada hukum konservasi yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang memasuki sebuah proses atau sistem keluarannya harus memiliki nilai yang sama seperti awal. Bagaimanapun ada situasi dimana ada terjadi reaksi kimia yang menyebabkan terjadinya peubahan berat, bentuk fisik dan volume. Hal seperti ini juga harus dihitung. Makanya untuk neraca yang kompleks akan lebih baik jika menyertakan orang yang memiliki kemampuan teknik untuk menyelesaikan masalah neraca diatas. Neraca massa dan energi dengan prinsip produksi bersih dengan orientasi terhadap lingkungan maka perlu dilakukan observasi dari proses terhadap dampaknya pada lingkungan. Sejak adanya pembentukan sisa dan adanya kehilangan massa dari proses, maka neraca pantas untuk diidentifikasi dan menghitungnya
    Kemudian neraca massa dan energi memiliki tujuan sebagai berikut :
Ø Untuk mengidentifikasi jalannya proses terhadap bahan baku didalam pabrik, yang memperhitungkan akumulasi, penyimpanan, perubahan dan kerugian ( losses)
Ø Untuk mengidentifikasi sisa serta polusi yang muncul dalam proses
Ø Untuk mengetahui perhitungan utama dari proses
Ø Untuk menghitung kerugian serta emisi
Ø Untuk mengeditifikasi proses yang tidak efisien
Ø Untuk menentukan nilai dari kerugian dan limbah
Ø Untuk memberikan cara peralakuan untuk meminimasi limbah dan ketidak efisienan
     Pengertian dibawah ini dibutuhkan untuk menerapkan neraca massa dan energi :
Ø Bagian mana dari proses atau tahap yang ingin dimonitor?
Ø Parameter apa yang ingin dihitung
Ø Apa unit kontrolnya (system)
Ø Aliran inlet dan outlet mana yang masuk dan keluar dari system
Ø Yang mana yang diidentifikasi, penyimpanan sementara atau akhir
Ø Berapa periode evaluasi
Ø Tahap penting yang mana diidentifikasi serta kunci dari operasi (key operations)
Ø Variabel apa yang ditemukan yang saling bersangkutan
   Kemudian laju alir dasar harus digambarkan, yang menerangkan aliran inlet dan outlet serta penyimpanan, akumulasi dan perubahan kimia ( chemical transformation). Untuk melakukan semua ini pengukuran yang dapat diandalkan atau data yang mungkin dibutuhkan, biasanya tidak tersedia di pabrik, seperti suhu, tekanan, laju alir, konsentrasi, ketetapan, level penyimpanan, dll. Jika memungkinkan lembar kerja excel harus dikembangkan untuk mengubah neraca ini menjadi alat optimasi untuk operator. Setelah neraca siap pada beberapa tahap-tahap terakhir adalah menginterpretasikan apa yang dihasilkan, dengan maksud agar memungkinkan untuk menghitung beberapa perhitungan efisiensi, yield dan kualitas dari operasi. Penentuan ini mungkin dihubungkan dengan biaya, yang memfasilitasi pembuat keputusan dalam kasus ini dimana investasi tentulah dibutuhkan (Foelkel, 2008).

2.4 Langkah-Langkah Produksi Bersih pada Bagian Proses
     Langkah dibawah ini berdasarkan dari teknik-teknik dari produksi bersih yakni house keepingdan substitusi bahan baku sekunder:
Ø Perbanyak isolasi untuk pipa aliran steam dan alat proses yang menghasilkan panas agar tidak terjadi heat loss
Ø Carilah cara agar panas yang ingin dibuang /dilepas dari suatu proses bisa dimanfaatkan untuk pemanfaatan proses lain (heat recovery) sehingga dapat menekan biaya bahan bakar untuk pemanasan. Misalnya panas dari reaksi eksoterm dalam sebuah reactor dimanfaatkan untuk memproduksi steam.
Ø Gunakan juga energy alternative yang bisa dimanfaatkan untuk bisa di supply ke proses seperti pemanfaatan energy matahari, biogas dari limbah organic, dan briket dari limbah padat.
Ø Gunakan bahan bakar yang memiliki efek rumah kaca yan terkecil

(Victoria,2008)

2.5 Ekoefisiensi dan Produksi Bersih
    Menurut Kamus Lingkungan Hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, ekoefisiensi didefinisikan sebagai suatu konsep efisiensi yang memasukkan aspek sumber daya alam dan energi atau suatu proses produksi yang meminimumkan penggunaan bahan baku, air dan energi serta dampak lingkungan per unit produk. Produksi bersih menurut UNEP (2003) merupakan suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu, sehingga perlu diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan daur hidup produk dengan tujuan untuk mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan.
     Ekoefisiensi dan produksi bersih mempunyai konsep yang sama. Keduanya seperti dua sisi mata uang yaitu berbeda pola pandangnya, namun ditilik dari metoda outputnya hampir serupa. Perbedaan yang jelas diantara keduanya adalah ekoefisiensi bermula dari isu efisiensi ekonomi yang punya manfaat lingkungan positif, sedangkan produksi bersih bermula dari isu-isu efisiensi lingkungan yang punya manfaat ekonomi positif.
    Tujuan ekoefisiensi adalah untuk mengurangi dampak lingkungan per unit yang diproduksi dan dikonsumsi. Dengan mengurangi sumber daya diperlukan bagi terbentuknya produk serta pelayanan yang lebih baik maka bisnis dapat mencapai keuntungan karena mempunyai daya saing. Produksi bersih bertujuan untuk mencegah dan meminimalkan terbentuknya limbah atau bahan pencemar lingkungan di seluruh tahapan produksi. Upaya-upaya dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku, bahan penunjang dan energi di seluruh tahapan produksi.Penerapan produksi bersih dapat melindungi sumberdaya alam dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Ekoefisiensi menjamin keberlanjutan ketersediaan sumber daya alam (materi dan energi). Di dalam industri konsep ini dapat diimplementasikan melalui penghematan (efisiensi) penggunaan bahan baku, energi dan air, minimalisasi kecelakaan kerja serta minimalisasi limbah. (Zaenuri, 2011).
Ekoefisiensi dapat dicapai dengan cara penyediaan barang -barang dengan hargayang cukup kompetitif dan jasa yang memuaskan kebutuhan manusia, dan membawa hidup menjadi lebih berkualitas, sementara secara progresif mengurangi dampak ekologi dan intensitas sumberdaya di seluruh siklus hidup pada tingkatan dimana paling tidak sama dengan kapasitas daya dukung bumi (WBCSD, 2000). World Business Council for Sustainable Development mengusulkan 7 fokus generik perbaikan sesuai ekoefisiensi (WBCSD, 2000) :
1. Mengurangi intensitas material
2. Mengurangi intensitas energi
3. Mengurangi penyebaran substansi beracun
4. Meningkatkan kemampu daur-ulangan
5. Memaksimalkan penggunaan bahan terbaharui
6. Meningkatkan masa hidup produk
7. Meningkatkan intensitas jasa

2.6 Prinsip Ekoefisiensi dan Produksi Bersih
    Produksi bersih (cleaner production) dan ekoefisiensi berhubungan erat. Produksi bersih dipandang sebagai suatu mekanisme memperbaiki keluaran lingkungan, yang mana juga berakibat pada manfaat finansial. Ekoefisiensi berfokus lebih dekat pada perbaikan keluaran bisnis, melalui penggunaan manajemen lingkungan yang diperbaiki dan efisiensi
sumberdaya.
   Ekoefisiensi dan produksi bersih melibatkan upaya-upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan dan energi yang efisien di seluruh tahapan produksi akan mencegah dan meminimalkan terbentuknya limbah di seluruh tahapan produksi. Prinsip atau konsep ini akan melindungi sumberdaya alam dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Prinsip-prinsip pokok dalam strategi produksi bersih (ekoefisiensi) menurut Kementerian Lingkungan Hidup dituangkan dalam 5R (rethink, reuse,reduce, recovery, recycle).
Prinsip ekoefisiensi ditekankan pada strategi utama yaitu upaya pencegahan dan pengurangan (elimination, reduce), tetapi apabila masih menimbulkan limbah, maka dilakukan strategi pengelolaan limbah yaitu pakai ulang (reuse), daur ulang (recycle) dan pungut ulang (recovery).




2.7 Perangkat Ekoefisiensi
      Terdapat 3 (tiga) perangkat eko-efisiensi menurut GTZ-Pro LH (2007), meliputi :
1. Good Housekeeping/GHK (Tata kelola yang apik)
   Pengelolaan internal yang baik (good housekeeping) berkaitan dengan sejumlah langkah praktis berdasarkan akal sehat yang dapat segera diambil oleh badan usaha dan atas inisiatif mereka sendiri untuk meningkatkan operasi mereka, dan menyempurnakan prosedur organisasional dan keselamatan tempat kerja dengan memperhatikan kebersihan, keapikan lingkungan kerja dan kinerja proses produksi. Dengan demikian ini merupakan sarana manajemen untuk pengelolaan biaya, pengelolaan lingkungan hidup dan perubahan organisasional. Bilamana kesemua bidang ini cukup dipertimbangkan, “tiga kemenangan” (ekonomi, lingkungan, organisasi) dapat dicapai dan keberhasilan proses perbaikan secara kontinyu dalam perusahaan dapat terwujud (GTZ-P3U, 2000).
Praktek good housekeeping mencakup tindakan prosedural, administratif atau institusional yang dapat digunakan di perusahaan untuk meminimalisasi penggunaan bahan baku, energi, air dan meminimalisasi serta mendaur ulang limbah yang dapat mengurangi biaya dan ongkos produksi. Good housekeeping dapat dilaksanakan dengan cara memperhatikan tata cara penyimpanan, penanganan dan pengangkutan bahan yang baik, pencegahan kebocoran dan ceceran, dan sebagainya. Penerapan operasi ini meliputi kegiatan : pengawasan terhadap, prosedur- prosedur operasi, perbaikan penanganan material, segregasi limbah, penjadwalan produk, praktek manajemen dan pemeliharaan preventif.
2. Environment Oriented Cost Management/EoCM (Manajemen Biaya Berorientasi Lingkungan)
 Manajemen Biaya Berorientasi Lingkungan bertujuan untukmemberikan informasi dalam pengambilan keputusan untuk perbaikankinerja lingkungan, ekonomi dan organisasional. Perhitungan ekonomi dilakukan terhadap setiap langkah proses yang melibatkan materi, energi, tenaga kerja dan peralatan. Pada setiap langkah proses, biaya produksi dan besarnya keluaran bukan produk (KBP) dihitung dalam kurun waktu 1 tahun. Dari hasil perhitungan tersebut akan teridentifikasi langkah proses yang mempunyai nilai KBP dan menyebabkan dampak lingkungan yang tinggi.
Pendekatan Manajemen Biaya Berorientasi Lingkungan secara garis besar dilakukan dalam enam tahap:
a. Mengidentifikasi langkah proses yang mempunyai KBP dan dampaklingkungan yang dominan
b. Menganalisa pengaruh terkait dengan biaya resiko dan bahaya dampaklingkungan
c. Menganalisa sebab timbulnya KBP
d. Mengembangkan upaya- upaya alternatif untuk meminimumkan KBP
e. Melaksanakan rencana aksi yang dipilih
f. Mengintegrasikannya dalam struktur di perusahaan.
3. Chemical Management/CM (Pengelolaan Bahan Kimia)
    Pengelolaan bahan kimia merupakan upaya perbaikan pengelolaanbahan kimia agar dapat diperoleh penghematan biaya, mengurangi dampak lingkungan, meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja, danmeningkatkan daya saing. Pendekatan pengelolaan bahan kimia dilakukan dengan dua tahap, yaitu :
a. Mengenali daerah rawan (hot spot)
  Pada tahap ini dilakukan identifikasi kehilangan bahan kimia dan bahaya bahan kimia bagi karyawan dan lingkungan, untuk selanjutnya dilakukan penanganan terhadap permasalahan tersebut. Dalam Chemical Management, dikenal 4 (empat) prinsip dasar penanganan bahan kimia, yaitu: Eliminasi bahaya (dengan tidak menggunakan bahan kimia berbahaya atau dengan menggantinya dengan bahan yang bahayanya lebih rendah), Beri jarak/ penghalang antara bahan kimia dengan pekerja, Sediakan ventilasi, Perlindungan pekerja dengan alat pelindung diri (APD).
b. Inventarisasi bahan kimia
  Pada tahap ini, dilakukan identifikasi menyeluruh terhadap bahankimia yang disimpan dan digunakan serta membentuk informasi terstrukturuntuk mengidentifikasi dan melakukan upaya peningkatan secaraberkesinambungan. Kesuksesan penerapan eko-efisiensi pada perusahaansangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
1) Pengambilan keputusan
   Pengambilan keputusan mutlak diperlukan dalam penerapan ekoefisiensi karena merupakan awal dari adanya perubahan. Pengambilan keputusan merupakan hak penuh dari pemilik perusahaan, dan jika diperlukan dibantu dengan konsultan. Keputusan yang diambil disesuaikan dengan besarnya skala prioritas suatu rencana aksi dan kemampuan finansial perusahaan.
2) Motivasi
   Motivasi untuk terus melaksanakan perbaikan perlu dimiliki oleh perusahaan dan didukung oleh seluruh karyawan. Sehingga penerapan eko-efisiensi tidak dirasakan sebagai beban, namun sebagai suatu kebutuhan.
3) Komitmen
    Perusahaan dan seluruh karyawan harus memiliki komitmen yang besar dalam mensukseskan suatu perubahan yang disepakati. Rasa memiliki karyawan terhadap perusahaan membantu menumbuhkan komitmen dalam melakukan perbaikan.
4) Kebiasaan
  Perubahan-perubahan yang telah disepakati sebelumnya, perlu dijadikan suatu kebiasaan bagi karyawan. Pihak manajemen puncak perlu melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap penerapan ekoefisiensi secara berkala untuk menjamin karyawan melakukan perubahan itu sebagai suatu kebiasaan
5) Hubungan top management dengan karyawan
   Kebersamaan antara pihak manajemen perusahaan dengan seluruh karyawan sangat diperlukan dalam menerapkan suatu perubahan. Rasa kebersamaan dan komunikasi yang intensif antara kedua belah pihak akan memudahkan dalam penyampaian masukan dan kritik terhadap perubahan, sehingga bisa diambil tindakan yang lebih tepat. Tentunya, hasil dari penerapan eko-efisiensi tidak hanya dinikmati oleh perusahaan, namun juga oleh karyawan dan masyarakat, baik dari segi finansial, lingkungan dan organisasional.

2.8 Non Product Output (NPO/KBP)
    Keluaran bukan produk (KBP) atau Non Product Output (NPO) didefinisikan sebagai seluruh materi, energi dan air yang digunakan dalam prosesproduksi namun tidak terkandung dalam produk akhir (GTZ-ProLH, 2007).Total biaya keluaran bukan produk merupakan penjumlahan biaya KBP dari input, Biaya KBP dari proses produksi dan biaya KBP dari output. Secara umum,total biaya KBP berkisar antara 10% - 30% dari total biaya produksi. 2. 1.
1. Bentuk keluaran bukan produk dapat diidentifikasi sebagai berikut :
a. Bahan baku yang kurang berkualitas
b. Barang jadi yang ditolak atau di luar spesifikasi produk yang ditentukan(semua tipe)
c. Pemrosesan kembali (reprocessing)
d. Limbah padat (beracun/ tidak beracun)
e. Limbah cair (jumlah dari kontaminan, keseluruhan air yang tidak terkandung
dalam produk final)
f. Energi yang tidak terkandung dalam produk akhir (seperti uap, listrik, oli,
diesel, dan lain- lain)
g. Emisi (termasuk kebisingan dan bau)
h. Kehilangan dalam penyimpanan
i. Kerugian pada saat penanganan dan transportasi (internal maupun eksternal)
j. Pengemasan barang
k. Klaim pelanggan dan trade returns
2. Kerugian karena kurangnya perawatan
   Kerugian karena permasalahan kesehatan dan lingkungan. Dalam perhitungan Keluaran bukan produk (KBP) terdapat beberapa catatan yaitu:
a. Lebih baik perkiraan secara kasar yang benar daripada dihitung teliti namun salah
b. Memikirkan apa yang akan direduksi, bila KBP dikurangi
c. Ada kemungkinan- kemungkinan berbeda dalam mengalokasikan biaya KBP
d. Menghindari perhitungan ganda
e. Tidak perlu berlebihan dalam memperkirakan penghematan.
  Dengan menganalisa masukan dan keluaran proses produksi secara terperinci, perusahaan mempunyai kesempatan untuk melihat lebih dekat terhadap proses produksi dan mengidentifikasi peluang lebih lanjut guna mengurangi biaya produksi dan meningkatkan produktivitas. Konsep keluaran bukan produk (KBP)dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Konsep Keluaran Bukan Produk (KBP)
(Sumber : Eimer dalam Kementrian Negara Lingkungan Hidup, 2007)

BAB III
KESIMPULAN
     Adapun kesimpulan dari penulisan makalah “Minimalisasi Limbah” adalah:
1. Menerapkan produksi bersih dalam pabrik industri kimia merupakan salah satu alternatif peminimalisasiaan limbah.
2. Ekoefisiensi dalam hubungannya dengan produksi bersih merupakan kombinasi yang mengkaji masalah ekonomi dan dampak lingkungan terhadap peminimalisasian limbah.
3. Teknik-teknik pelaksanaan produksi bersih adalah pengurangan pada sumber dan daur ulang.



DAFTAR PUSTAKA
Costantin, dkk. 2008. Cleaner Production Assessment Technical, Economic, Environmental and Financial Assessment of Generated Options. Pdf. Project Finance Through Life
Dwi dan Susanti. 1997. Studi Penerapan Produksi Bersih (Studi Kasus Pada Perusahaan Pulp and Paper Serang). Jurnal Teknik Lingkungan. Universitas Diponegoro : Semarang
Foelkel, Celso. 2008. Eco-Efficiency and Cleaner Production For The Eucalyptus Pulp and Paper Industry. Eucalyptus Online Book. Celsius Degree Press
Hidayat, Nur. 2012. Produksi Bersih, Artikel. Universitas Brawijaya : Malang.
Panggabean, Sahat M. 2000. Minimisasi Limbah pada Pusat Pengembangan Pengelolaan Limbah Radioaktif. Buletin Limbah. Vol 3 No.1.
Victoria. 2008. Hints and Tips For Improving Resource Efficiency In Your Business. Artikel. Epa Victoria Department.
Cara

Laju Reaksi Teknik Kimia

http://3.bp.blogspot.com/-SW3JrvKUC_g/VP74aOVZjeI/AAAAAAAAAJc/5ISvrLQF-fA/s1600/Copy-of-300x250-sitebuilder_128.gif
 1.1  Laju Reaksi
Laju reaksi adalah banyaknya pereaksi yang berkurang per satuan waktu atau banyaknya produk yang terbentuk per satuan waktu. Jumlah zat yang berubah dinyatakan dalam satuan volum total campuran. Oleh karena itu, laju reaksi didefinisikan sebagai pertambahan konsentrasi molar produk reaksi per satuan waktu, atau pengurangan konsentrasi molar pereaksi per satuan waktu. Satuan laju reaksi adalah mol per liter per detik atau mol L-1s-1. Laju reaksi dipengaruhi oleh frekuensi tumbukan efektif yang terjadi antar molekul. Semakin sering terjadi tumbukan efektif maka laju reaksi akan semakin cepat. Dengan meningkatkan frekuensi tumbukan efektif antar molekul, maka dapat dihasilkan produk dalam waktu yang singkat (Keenan, 1986).
Bagaimanakah cara menyatakan laju dari suatu reaksi? Dalam reaksi kimia, perubahan yang dimaksud adalah perubahan konsentrasi pereaksi atau produk. Seiring dengan bertambahnya waktu reaksi, maka jumlah zat pereaksi akan makin sedikit, sedangkan produk makin banyak. Laju reaksi dinyatakan sebagai laju berkurangnya pereaksi atau laju bertambahnya produk. Satuan konsentrasi yang digunakan adalah molaritas (M) atau mol per liter (mol L-1). Satuan waktu yang digunakan biasanya detik (dt). Sehingga laju reaksi mempunyai satuan mol per liter per detik (mol L-1 dt-1 atau M dt-1).

1.1    Kinetika Reaksi Homogen
Kinetika kimia adalah bagian dari kimia fisika yang mempelajari tentang kecepatan reaksi-reaksi kimia dan mekanisme reaksi-reaksi tersebut.
Termodinamika kimia mempelajari hubungan tenaga antara pereaksi dan hasil-hasil reaksi, tidak mempelajari bagaimana reaksi-reaksi tersebut berlangsung dan dengan kecepatan berapa kesetimbangan untuk reaksi kimia ini dicapai. Hal terakhir ini dipelajari dalam kinetika kimia, sehingga kinetika kimia merupakan pelengkap bagi termodinamika kimia.
Tidak semua reaksi kimia dapat dipelajari secara kinetik. Reaksi-reaksi yang berjalan sangat cepat seperti reaksi-reaksi ion atau pembakaran dan reaksi-reaksi yang berjalan sangat lambat seperti pengkaratan, tidak dapat dipelajari secara kinetik. Diantara kedua jenis ini, banyak reaksi-reaksi yang kecepatannya dapat diukur(Sukardjo, 1997).
     Kecepatan reaksi ialah kecepatan perubahan konsentrasi pereaksi terhadap waktu, jadidC/dt. Tanda minus menunjukkan bahwa konsentrasi berkurang bila waktu berubah. Menurut hukum kegiatan massa, kecepatan reaksi pada temperatur tetap, berbanding lurus dengan konsentrasi pengikut-pengikutnya dan masing-masing berpangkat sebanyak molekul dalam persamaan reaksi (Sukardjo, 1997).
            Untuk reaksi :
n1A + n2B + n3C → hasil-hasil
(Sukardjo, 1997).
           
Laju didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi per satuan waktu. Umumnya laju reaksi meningkat dengan meningkatnya konsentrasi, dan dapat dinyatakan sebagai :
Laju     ≈          k f (C1, C2,…….Ci)
(Dogra, dkk., 1990).
Dimana k adalah konstanta laju, juga disebut konstanta laju spesifik atau konstanta kecepatan, C1, C2,…. adalah konsentrasi dari reaktan-reaktan dan produk-produk. sebagai contoh dalam hal reaksi umum (Dogra, dkk., 1990).

1.2    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi
            1.2.1        Konsentrasi
Telah diuraikan dalam teori tumbukan, perubahan jumlah molekul pereaksi dapat berpengaruh pada laju suatu reaksi. Kita telah tahu bahwa jumlah mol spesi zat terlarut dalam 1 liter larutan dinamakan konsentrasi molar. Bila konsentrasi pereaksi diperbesar dalam suatu reaksi, berarti kerapatannya bertambah dan akan memperbanyak kemungkinan tabrakan sehingga akan mempercepat laju reaksi. Bila partikel makin banyak, akibatnya lebih banyak kemungkinan partikel saling bertumbukan yang terjadi dalam suatu larutan, sehingga reaksi bertambah cepat.
            1.2.2        Luas Permukaan Sentuhan
Pengaruh luas permukaan banyak diterapkan dalam industri, yaitu dengan menghaluskan terlebih dahulu bahan yang berupa padatan sebelum direaksikan. Ketika kita makan, sangat dianjurkan untuk mengunyah makanan hingga lembut, agar proses reaksi di dalam lambung berlangsung lebih cepat dan penyerapan sari makanan lebih sempurna. Apa hubungannya dengan tumbukan? Makin luas permukaan gamping, makin luas bidang sentuh dengan asam klorida makin besar, sehingga jumlah tumbukannya juga makin besar. Artinya makin kecil ukuran, makin luas permukaannya, makin banyak tumbukan, makin cepat terjadinya reaksi.
            1.2.3        Suhu
Jika suhu dinaikkan, maka kalor yang diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi. Sehingga pergerakan partikel-partikel pereaksi makin cepat, makin cepat pergerakan partikel akan menyebabkan terjadinya tumbukan antar zat pereaksi makin banyak, sehingga reaksi makin cepat.
Energi kinetik molekul-molekul tidak sama. Ada yang besar dan ada yang kecil. Oleh karena itu, pada suhu tertentu ada molekul-molekul yang bertabrakan secara efektif dan ada yang bertabrakan secara tidak efektif. Dengan perkataan lain, ada tabrakan yang menghasilkan reaksi kimia ada yang tidak menghasilkan reaksi kimia. Meningkatkan suhu reaksi berarti menambahkan energi. Energi diserap oleh molekul-molekul sehingga energi kinetik molekul menjadi lebih besar. Akibatnya, molekul-molekul bergerak lebih cepat dan tabrakan dengan dampak benturan yang lebih besar makin sering terjadi. Dengan demikian, benturan antar molekul yang mempunyai energi kinetik yang cukup tinggi itu menyebabkan reaksi kimia juga makin banyak terjadi. Hal ini berarti bahwa laju reaksi makin tinggi.
            1.2.4        Katalis
Salah satu cara lain untuk mempercepat laju reaksi adalah dengan jalan menurunkan energi pengaktifan suatu reaksi. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan katalis. Katalis adalah zat yang dapat meningkatkan laju reaksi tanpa dirinya mengalami perubahan kimia secara permanen. Katalis dapat bekerja dengan membentuk senyawa antara atau mengabsorpsi zat yang direaksikan. Suatu reaksi yang menggunakan katalis disebut reaksi katalis dan prosesnya disebut katalisme. Katalis suatu reaksi biasanya dituliskan di atas tanda panah.
Ada dua macam katalis, yaitu katalis positif (katalisator) yang berfungsi mempercepat reaksi, dan katalis negatif (inhibitor) yang berfungsi memperlambat laju reaksi. Katalis positif berperan menurunkanenergi pengaktifan, dan membuat orientasi molekul sesuai untuk terjadinyan tumbukan. Sedangkan katalisator dibedakan atas katalisator homogen dan katalisator heterogen.
            1.2.5        Mekanisme Reaksi
Beberapa reaksi berlangsung melalui pembetukan zat antara, sebelum diperoleh produk akhir. Reaksi yang demikian berlangsung tahap demi tahap. Mekanisme reaksi ialah serangkaian reaksi tahap demi tahap yang terjadi berturut-turut selama proses perubahan reaktan menjadi produk.

1.3    Reaktor Batch
Reaktor batch digunakan dalam skala operasi kecil, untuk mencoba proses baru yang belum sepenuhnya dikembangkan, untuk produksi produk mahal dan untuk proses yang sulit dikonversi oleh operasi kontinu. Reaktor batch memiliki kelebihan yaitu dapat memberikan nilai konversi yang tinggi, yang dapat diperoleh dengan membiarkan reaktan berada dalam reaktor dalam jangka waktu yang lama. Kekurangannya adalah biaya yang mahal untuk setiap batch, produk yang dihasilkan dapat bervariasi dari batch yang satu dengan batch yang lainnya, dan tidak efektif untuk produksi skala besar.
Gambar 2.2 Reaktor Batch
(Fogler, 2006)
  

1.4    Bahan Baku
2.4.1      Asam Format (H3PO4)
Asam format merupakan senyawa berbentuk cairan bersifat korosif, yang mempunyai rumus molekul H3PO4, tekanan uap 0.0285  oC, titik beku-17,5 oC, dan titik didih 158 °C. Larut dalam air dan pelarut organik. Bersifat stabil pada suhu dan tekanan normal, namun tidak stabil dengan asam dan basa kuat serta oksidator kuat.

2.4.2      Natrium Hidroksida (NaOH)
Natrium hidroksida merupakan senyawa berwujud padat dan berwarna putih yang memiliki berat molekul 40 g/mol. Senyawa ini dikenal larut dalam air, alkohol, eter, dan gliserin, memiliki titik didih sebesar 1390 °C dan titik leleh sebesar 318,4 °C. Apabila senyawa ini dipanaskan pada temperature 1000 °C dengan pencampuran kabon akan membentuk metallic sodium.

Referensi
Azizah, Utiya. 2004. Laju Reaksi. http://dartosaripan.fileave.com/10_laju_reaksi.pdf.
            Diakses pada tanggal 1 April 2014.
Brother, Hill. 1978. Phormate Acid  Safety Data Sheet. http://www.sipchem.com/. Diakses pada tanggal 1 April 2014.
Davis, Robert J, dkk. 2003. Fundamental of Chemical Reactions Engineering. New York : McGraw – Hill.
Dogra, dkk. 2009. Kimia Fisika dan Soal – soal. Jakarta : UI Press.
Fogler, H. Scott. 2004. Elements of Chemical Reaction Engineering. Edisi Ketiga. New Delhi : Prentice Hall of India.
Keenan, dkk. 1986. General College Chemistry. Jilid 1. Edisi Keenam. New York : Harper International.
Levenspiel, Octave. 1999. Chemical Reaction Engineering. Edisi Ketiga. New York : John Wiley & Sons.
Missen, Ronald W, Charles A. Mims, Bradley A. Saville. 1999. Introduction to Chemical Reaction Engineering and Kinetics. Amerika Serikat : John Wiley & Sons, Inc.
Sukardjo. 1997. Kimia Fisika.Edisi Ketiga. Jakarta : Rineka Cipta.

Cara